Menguak Tabir di Balik Gelombang Aksi: Apa yang Terjadi di Gedung DPR

kerumunan massa yang berteriak-teriak di depan gedung DPR. (Poto Ilustrasi tangkap layar Gemini)

Zonabrita.com – ​Setiap kali layar media, baik digital maupun konvensional, dipenuhi dengan pemandangan kerumunan massa yang berteriak-teriak di depan gedung DPR, pertanyaan yang muncul selalu sama: ada apa sebenarnya? Opini publik terbelah. Sebagian melihatnya sebagai manifestasi murni dari kegelisahan rakyat, sementara yang lain sinis, menyebutnya sebagai agenda tersembunyi yang ditunggangi kepentingan politik.

Media, dengan berbagai platformnya, mencoba merangkum peristiwa ini, namun seringkali yang kita dapatkan hanya potongan-potongan narasi yang membingungkan. Padahal, untuk memahami fenomena ini secara utuh, kita harus melihat lebih dalam dari sekadar gambar-gambar yang viral di media sosial.

​Pada dasarnya, setiap demo adalah sebuah drama. Ada aktor-aktornya, panggungnya, dan tentu saja, skenario yang berjalan di balik layar. Para demonstran, yang seringkali disebut sebagai “rakyat,” adalah aktor utamanya. Mereka datang dengan berbagai tuntutan, mulai dari penolakan RUU kontroversial, masalah ekonomi, hingga isu-isu sosial yang dinilai tidak adil. Namun, di balik seragam almamater mahasiswa atau atribut buruh yang dikenakan, ada narasi personal yang menggerakkan mereka. Rasa frustrasi terhadap ketidakadilan, kekecewaan terhadap janji-janji politik yang tak kunjung terealisasi, dan harapan untuk masa depan yang lebih baik. Perasaan-perasaan inilah yang menjadi energi penggerak utama.

​Di sisi lain, ada “panggung” yang selalu sama: gedung DPR. Gedung ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan simbol kekuasaan dan legislasi. Di mata demonstran, gedung ini adalah representasi dari kegagalan. Ia menjadi titik kumpul kemarahan dan kekecewaan. Namun, di dalam gedung itu sendiri, dinamika yang terjadi pun tak kalah kompleks. Ada tawar-menawar politik, lobi-lobi rahasia, dan keputusan-keputusan penting yang diambil di balik pintu tertutup. Peristiwa demo di luar seringkali menjadi ‘pemantik’ bagi dinamika di dalam, memaksa para anggota dewan untuk mengambil sikap, atau bahkan mengubah arah kebijakan.

​Pertanyaannya, apa yang membuat gelombang aksi ini terus berulang? Di era digital saat ini, media sosial berperan layaknya corong yang mempercepat penyebaran informasi, tetapi juga disinformasi. Sebuah video singkat yang menyorot bentrokan antara demonstran dan aparat, sebuah poster digital dengan narasi provokatif, atau bahkan sebuah meme satir bisa menjadi bahan bakar yang menyulut kemarahan publik.

Akibatnya, narasi yang dibangun media massa seringkali didominasi oleh “dramatisasi” yang berfokus pada konflik, alih-alih pada substansi tuntutan. Kita cenderung lebih tertarik pada kerusuhan daripada pada alasan di baliknya.

​Oleh karena itu, ketika kita disuguhkan berita tentang demo di depan DPR, ada baiknya kita tidak hanya terpaku pada apa yang terlihat di permukaan. Pemandangan asap dan teriakan adalah bagian dari pertunjukan, tetapi substansi sebenarnya terletak pada “skenario” yang tersembunyi.

Kita perlu menggali lebih dalam: apa akar masalahnya? Siapa saja aktor yang terlibat? Apakah tuntutan mereka murni dari hati nurani, atau ada motif lain yang bermain? Jurnalisme yang baik seharusnya tidak hanya melaporkan, tetapi juga membongkar dan menganalisis, memberikan konteks yang utuh, dan mengajak publik untuk berpikir kritis.

."width="300px"

​Jadi, apa yang sebenarnya terjadi di depan gedung DPR? Jawabannya tidak sesederhana “ada demo.” Jawabannya adalah sebuah cerminan dari ketidakpuasan yang terakumulasi, dinamika politik yang kompleks, dan peran media yang kini begitu kuat dalam membentuk opini. Memahami fenomena ini berarti memahami denyut nadi bangsa, karena di balik setiap demo, ada kisah tentang harapan dan kekecewaan yang tak terucap, menunggu untuk didengarkan.

​Dahulu, demonstrasi seringkali terjadi di titik-titik strategis. Namun, beberapa bulan terakhir ini fokus demonstrasi seolah bergeser. Mengapa? Karena Gedung DPR dianggap sebagai benteng terakhir harapan bagi perubahan.

Rakyat datang dengan harapan agar para wakilnya mendengarkan, meninjau kembali keputusan, dan berpihak pada kepentingan publik. Namun, ketika harapan itu berulang kali pupus dan yang mereka lihat hanyalah kegagulan komunikasi serta sikap yang terkesan tidak peduli, maka kekecewaan itu meledak.

​Demonstrasi di Gedung DPR bukanlah sekadar upaya menyampaikan aspirasi, melainkan sebuah teriakan putus asa. Ini adalah cara terakhir untuk mengguncang para pembuat keputusan agar melihat realitas di lapangan. Mereka menargetkan gedung ini karena mereka ingin mengirimkan pesan yang tidak bisa diabaikan: “Kami di sini, di depan rumah Anda, karena Anda sudah tidak lagi menjadi wakil kami.”

​Solusi Bukan Hanya Soal Keamanan
​Maka, untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi di Gedung DPR, kita harus melihat lebih dalam dari sekadar aksi massa. Ini adalah gejala dari krisis kepercayaan yang lebih besar. Menempatkan lebih banyak kawat berduri atau personel keamanan di sekitar gedung tidak akan menyelesaikan akar masalahnya.

Justru, solusi yang dibutuhkan adalah memperbaiki kembali jembatan komunikasi antara rakyat dan wakilnya. Mendengarkan secara tulus, menanggapi dengan tindakan nyata, dan menunjukkan empati terhadap penderitaan rakyat adalah kunci untuk mengembalikan kepercayaan publik.

​Demonstrasi di Gedung DPR akan terus terjadi selama jurang antara janji dan realitas, antara harapan dan kekecewaan, masih terus menganga lebar.

Opini Krisis : Oleh Bung Idirs