IHSG Anjlok 8% dan Alami Trading Halt, BEI Respon Sentimen Negatif MSCI

Ilustrasi IHSG (poto gemini)

Zonabrita.com – Lantai bursa Indonesia mengalami salah satu hari terkelam dalam sejarah pasar modal modern. Pada perdagangan Rabu (28/1/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan jual ekstrem yang memaksa otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan intervensi darurat melalui mekanisme trading halt (penghentian perdagangan sementara). Sentimen negatif yang bermuara dari keputusan lembaga indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI), menjadi pematik utama kepanikan pasar.

IHSG tercatat terjun bebas hingga menyentuh level 8.261, atau anjlok lebih dari 8% hanya dalam satu sesi perdagangan. Berdasarkan data RTI Business, frekuensi perdagangan meningkat tajam yang didominasi oleh aksi lepas saham oleh investor asing dan diikuti oleh kepanikan investor ritel domestik. Dari seluruh saham yang melantai, sebanyak 768 emiten bertumbangan di zona merah, menciptakan pemandangan yang jarang terjadi di mana hampir seluruh sektor industri kehilangan nilai kapitalisasinya secara signifikan.

Pemicu Krisis: Intervensi MSCI

Akar dari “prahara Januari” ini adalah pengumuman resmi dari MSCI yang memutuskan untuk membekukan sementara seluruh perubahan indeks bagi sekuritas asal Indonesia. Keputusan ini merupakan respon atas kekhawatiran global mengenai transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia. MSCI menyoroti adanya konsentrasi kepemilikan yang terlalu tinggi pada segelintir pihak di beberapa emiten besar, yang dianggap mengurangi efektivitas free float (saham beredar di publik) dan menciptakan risiko manipulasi harga.

“Langkah MSCI ini adalah sinyal peringatan keras bagi tata kelola pasar modal kita. Investor global sangat sensitif terhadap isu transparansi. Ketika sebuah negara dimasukkan dalam status ‘peninjauan’ atau pembekuan indeks, manajer investasi institusional cenderung menarik dana mereka terlebih dahulu untuk menghindari risiko likuiditas,” ujar seorang pengamat pasar modal senior dalam konferensi pers darurat sore ini.

Tekanan tidak hanya dirasakan oleh saham-saham berkapitalisasi besar (blue chip). Saham di sektor komoditas dan energi seperti ADRO dan ESSA, serta perusahaan investasi seperti SRTG, turut terseret arus pelemahan. Bahkan, saham-saham lapis kedua dan emiten baru (IPO) yang biasanya bergerak independen, kali ini ikut terjerembab menyentuh batas Auto Rejection Bawah (ARB) karena keringnya likuiditas beli di pasar.

Investor ritel yang banyak menggunakan platform aplikasi seperti Ajaib dan Stockbit melaporkan terjadinya antrean jual yang sangat panjang, namun tidak dibarengi dengan minat beli yang cukup. Hal ini memperparah penurunan harga karena hukum permintaan dan penawaran yang tidak seimbang.

Menanggapi situasi ini, Direksi Bursa Efek Indonesia menyatakan bahwa trading halt dilakukan untuk memberikan waktu bagi pelaku pasar untuk mencerna informasi secara lebih rasional dan mencegah penurunan indeks lebih lanjut yang didorong oleh emosi sesaat. Otoritas bursa juga berencana melakukan koordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memberikan klarifikasi kepada MSCI terkait isu transparansi kepemilikan saham yang menjadi keberatan pihak internasional.

​Para analis memprediksi bahwa pasar masih akan mengalami volatilitas tinggi hingga akhir pekan. Namun, mereka juga mengingatkan bahwa secara historis, koreksi yang disebabkan oleh faktor teknis indeks seringkali menciptakan peluang beli bagi investor jangka panjang pada saham-saham yang secara fundamental tetap solid.

​”Ekonomi makro kita sebenarnya masih stabil. Namun, pasar saham adalah masalah persepsi dan kepercayaan. Saat ini, kepercayaan itu sedang diuji. Kami menyarankan investor untuk melakukan inventarisasi portofolio, memisahkan saham yang turun karena fundamental yang rusak dengan saham yang turun hanya karena terbawa arus sentimen,” tutup laporan analisis tersebut.

​Hingga penutupan pasar, tercatat total nilai transaksi mencapai angka yang luar biasa besar, menunjukkan terjadinya perpindahan aset secara masif di tengah ketidakpastian global yang melanda pasar keuangan domestik. (Red)