MANGROVE: Jangkar Ekonomi Biru dan Asa Kesejahteraan di Pesisir Jambi

​Oleh: Prof. Dr. Ir. Suandi, M.Si., IPU
(Guru Besar Universitas Jambi & Tenaga Ahli Gubernur 2026)

Di sepanjang garis pantai Provinsi Jambi, akar-akar yang saling melilit menembus lumpur pekat, berdiri teguh melawan hantaman ombak Selat Berhala. Itulah ekosistem mangrove sebuah benteng hijau yang sekilas tampak sunyi, namun sebenarnya menyimpan denyut nadi kehidupan yang luar biasa. Bagi masyarakat pesisir, mangrove bukan sekadar pepohonan yang tumbuh di wilayah pasang surut; ia adalah jaminan keamanan, lumbung pangan, sekaligus jangkar bagi masa depan ekonomi yang kita kenal sebagai Ekonomi Biru.

Mangrove adalah anugerah evolusi. Ia bertahan hidup di lingkungan ekstrem yang mematikan bagi tanaman lain: air dengan salinitas tinggi, tanah yang minim oksigen, dan terjangan pasang surut yang konstan. Dengan sistem perakaran yang kompleks dan kokoh, mangrove menjalankan peran sebagai “benteng alami.” Hutan ini mampu meredam energi gelombang laut hingga 50-99%, sebuah perlindungan mekanis yang jauh lebih efektif dan murah dibandingkan pembangunan tanggul beton buatan manusia.

Di Jambi, kehadiran mangrove menjadi sangat krusial. Tanpa mangrove, abrasi akan dengan cepat melahap daratan, mengancam permukiman, dan meningkatkan risiko bencana jika sewaktu-waktu terjadi gelombang besar atau tsunami. Namun, fungsinya tidak berhenti di garis pantai. Di bawah permukaan air, akar-akar mangrove menjadi nursery ground atau tempat penitipan alam bagi larva ikan, udang, dan kepiting sebelum mereka bermigrasi ke laut lepas. Singkatnya, tanpa mangrove yang sehat, meja makan kita akan kehilangan sumber protein laut yang selama ini kita nikmati.
Provinsi Jambi memiliki kekayaan mangrove seluas 12.583 hektare. Sebaran terbesarnya berada di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (80%) dan sisanya di Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Namun, di balik angka tersebut, tersimpan alarm peringatan yang cukup nyaring. Berdasarkan data terkini, meski 77% mangrove dalam kondisi baik, terdapat sekitar 22% atau hampir seperempat dari total luasan tersebut yang mengalami kerusakan berat.

Kerusakan ini bukanlah murni proses alam. Tangan-tangan manusia yang tidak bertanggung jawab melakukan penebangan liar, mengalihfungsikan lahan menjadi tambak yang tidak berkelanjutan, hingga pembangunan permukiman yang melanggar sempadan pantai. Akibatnya, keseimbangan alam terganggu. Abrasi pantai kian meluas, dan siklus hidup biota laut terputus.

Dampak lingkungan ini secara langsung memukul kondisi sosial-ekonomi. Ada ironi yang menyesakkan di sini: wilayah pesisir kita kaya secara ekologis, namun masyarakatnya masih bergelut dengan kemiskinan ekstrem. Data menunjukkan tingkat kemiskinan di Tanjung Jabung Barat mencapai 9,54% dan di Tanjung Jabung Timur sebesar 10,14%. Angka-angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata kemiskinan Provinsi Jambi yang berada di angka 7,19%.

Untuk menjawab tantangan tersebut, kita harus menatap ke arah Ekonomi Biru. Konsep ini bukan sekadar mengeksploitasi laut, melainkan strategi pembangunan ekonomi yang mengintegrasikan kelestarian lingkungan dengan kesejahteraan sosial. Mangrove adalah tulang punggung dari strategi ini melalui perannya sebagai penyerap karbon atau blue carbon.

Hutan mangrove mampu menyimpan karbon dalam jumlah yang jauh lebih besar dibandingkan hutan hujan tropis di daratan. Di masa depan, potensi ini bisa bertransformasi menjadi nilai ekonomi melalui mekanisme perdagangan karbon (carbon trade), yang dapat menjadi sumber pendapatan baru bagi daerah dan masyarakat lokal tanpa harus menebang satu pohon pun.

Namun, potensi besar ini terhambat oleh realita kualitas sumber daya manusia (SDM) di pesisir. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di wilayah pesisir Jambi (69,93 dan 67,54) masih tertinggal jauh di bawah rata-rata provinsi (73,43). Terbatasnya akses pendidikan dan layanan kesehatan memperparah keadaan. Masalah stunting yang masih tinggi di pesisir Tanjung Jabung Timur menunjukkan adanya paradoks gizi: masyarakat yang hidup berdampingan dengan sumber protein laut justru kesulitan mengakses pangan bergizi secara konsisten.

Menyelamatkan mangrove dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Kita tidak bisa menuntut masyarakat menjaga hutan jika perut mereka lapar, dan kita tidak bisa meningkatkan ekonomi jika fondasi alamnya hancur. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah strategis dan terpadu:

Pertama, Rehabilitasi Berbasis Masyarakat. Pemulihan 22% mangrove yang rusak tidak boleh hanya menjadi proyek penanaman pohon secara seremonial. Masyarakat harus dilibatkan sebagai aktor utama dalam pembibitan dan pengawasan, sehingga muncul rasa memiliki (sense of belonging) yang kuat.

​Kedua, Optimalisasi Sektor Perikanan dan Hilirisasi. Kita harus mendorong nelayan tradisional untuk naik kelas. Bukan hanya menangkap, tapi juga mengolah hasil laut menjadi produk bernilai tambah tinggi. Inovasi produk olahan dari ekosistem mangrove seperti sirup, tepung, atau kerajinan dapat menjadi alternatif pendapatan bagi kaum perempuan di pesisir.

​Ketiga, Pengembangan Ekowisata Berkelanjutan. Karakteristik unik mangrove Jambi adalah magnet wisata yang besar. Dengan konsep ekowisata, masyarakat dapat memperoleh penghasilan dari jasa lingkungan, sementara keasrian hutan tetap terjaga. Wisatawan datang untuk belajar dan mengagumi, bukan untuk merusak.

Keempat, Intervensi Pendidikan dan Kesehatan. Pemerintah harus mempercepat peningkatan IPM di pesisir. Beasiswa pendidikan bagi anak nelayan dan perbaikan akses sanitasi serta layanan kesehatan adalah kunci untuk memutus rantai kemiskinan dan mengatasi masalah stunting.

Mangrove adalah jati diri pesisir Jambi. Ia berdiri di sana sebagai pengingat bahwa masa depan kita sangat bergantung pada cara kita memperlakukan alam hari ini. Jika kita membiarkan mangrove rusak, kita sedang meruntuhkan benteng pertahanan kita sendiri dan mengubur masa depan generasi mendatang.

Sebaliknya, dengan pengelolaan yang terintegrasi, mangrove akan tetap lestari sebagai paru-paru dunia sekaligus menjadi mesin penggerak ekonomi yang menyejahterakan masyarakat. Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, sektor swasta, dan masyarakat adalah harga mati. Mari kita jadikan mangrove sebagai simbol kebangkitan Ekonomi Biru Jambi di mana lautnya biru, hutannya hijau, dan rakyatnya sejahtera. (Red)