Di Balik Meja Kayu: Perjuangan Atlet Domino Jambi Menaklukkan Panggung Nasional
Oleh Moch Idris
Jurnalis Jambi
Di bawah sorot lampu panggung Mega Mendung, Bogor, tiga sosok pria berdiri dengan medali perak melingkar di leher mereka. Mereka bukan sekadar pemain hobi yang biasa ditemui di sudut-sudut kantin atau pos ronda. Mereka adalah representasi dari sebuah evolusi: transformasi dari sekadar “hobi” menjadi “atlet” profesional yang membawa nama Provinsi Jambi ke kancah Nasional.
Inilah kisah tentang dedikasi, strategi, dan perjuangan melawan stigma melalui keping-keping domino.
Bagi Muhammad Hidayat, domino bukanlah hal baru. Ia telah menjalin hubungan dengan kartu berbintik merah ini selama 31 tahun. Pria kelahiran Jambi, 31 Oktober 1986 ini, menunjukkan bahwa konsistensi adalah kunci. Dalam enam bulan terakhir, hidupnya berputar di atas meja strategi. Di tengah masa transisi karirnya, Hidayat memilih untuk mengasah kemampuan otaknya secara penuh.
“Kadang saya bermain hingga subuh. Bukan sekadar mengisi waktu, tapi mengasah intuisi,” ujar Hidayat. Keputusan itu membuahkan hasil. Melalui wadah ORADO (Federasi Olahraga Domino Nasional), ia berhasil menyabet Juara 2 di tingkat Kejurprov Jambi. Keberhasilan itu menjadi tiket emas yang membawanya ke Kejuaraan Nasional (Kejurnas) di Bogor pada 24 April 2026. Hasilnya spektakuler; Jambi berhasil menduduki posisi Runner-Up kategori Senior.
Berbeda dengan Hidayat, Iqbal Saputra membawa dimensi intelektual ke atas meja domino. Seorang Magister Ekonomi Pembangunan yang kini tengah menempuh pendidikan Doktoral (S3), Iqbal membuktikan bahwa domino adalah olahraga otak yang setara dengan teori-teori akademis yang ia ajarkan di kampus.
​Merantau dari Argamakmur, Bengkulu Utara, ke Jambi, Iqbal mengelola bisnis kuliner “Sate Eddy Mayang”. Namun, gairah sejatinya ada pada strategi domino yang bermula dari meja kantin saat masa mahasiswa. “Domino bagi saya adalah miniatur kehidupan. Kita belajar kapan harus bertahan dengan kartu sulit, dan kapan harus berani mengambil langkah kunci,” tuturnya.
Kecintaannya membawa ia melampaui turnamen lokal. Dengan mentalitas seorang pendidik dan pengusaha, ia menyatukan logika ekonomi dengan seni strategi di panggung nasional, membuktikan bahwa dedikasi pada hobi dapat berjalan selaras dengan prestasi akademik.
Kisah menarik lainnya datang dari Muhammad Idris. Pria kelahiran Muaro Bungo ini lebih dikenal sebagai seorang “kuli tinta” atau jurnalis. Terbiasa menulis narasi tentang orang lain, kini ia sendiri yang menjadi subjek berita. Awalnya, ia tak pernah terpikir menjadi seorang atlet. Baginya, domino dulu hanyalah interaksi sosial kecil-kecilan bersama rekan sejawat.
Namun, semangat kompetisi yang teruji di lapangan jurnalisme terbawa ke meja pertandingan. Optimisme Idris meledak saat ia dan timnya menghadapi liku-liku pendaftaran Kejurnas 2026. Perjalanan mereka tidak mulus. Kekalahan di seleksi Kejurcab Kota Jambi akibat regulasi yang dirasa belum maksimal tidak memadamkan api semangat mereka.
​Memahami bahwa waktu menuju Kejurprov semakin mepet, Idris dan rekan-rekannya melakukan manuver cerdas. Mengetahui Kabupaten Tanjung Jabung Timur belum mengirimkan perwakilan, mereka memutuskan untuk mendaftar melalui wilayah tersebut. Strategi ini berhasil. Mereka tidak hanya berangkat, tapi mendominasi.
Tim ini meraih Juara 2 kategori Senior dan Juara 1 kategori Junior, sebuah pencapaian yang membuat kontingen mereka dijuluki sebagai “Juara Umum” tingkat provinsi. Jalan menuju nasional pun terbuka lebar. Meski awalnya kuota Jambi terbatas, optimisme dan lobi-lobi profesional tim ofisial berhasil menambah slot tanding untuk Jambi. Kepercayaan diri itulah yang akhirnya membawa mereka merengkuh podium juara di tingkat nasional.
Kemenangan tim Jambi di Kejurnas ORADO 2026 bukan sekadar soal trofi atau hadiah uang tunai. Ini adalah tentang perubahan paradigma. Jargon “ORADO… Memintarkan Indonesia!” benar-benar mereka jiwai. Olahraga ini menuntut kejernihan berpikir, kontrol emosi, dan kerja sama tim yang solid.
Para atlet ini membuktikan bahwa dengan niat yang tulus dan manajemen yang profesional di bawah naungan ORADO Jambi, hobi yang sering dianggap sebelah mata bisa bertransformasi menjadi prestasi yang mengharumkan nama daerah.
Ucapan terima kasih yang mendalam mengalir dari para atlet kepada jajaran pengurus ORADO Jambi. Tanpa kesempatan dan sistem dukungan yang diberikan, langkah mereka mungkin hanya akan berhenti di meja-meja kopi. Kini, dengan medali di tangan, mereka kembali ke Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah sebagai pahlawan olahraga yang telah menaklukkan Nusantara melalui strategi dan ketajaman logika. (Red)

















