“Ironi Sang Singa: Kisah Heroik Massoud yang Gugur di Tangan ‘Wartawan’ Palsu”

Poto Ahmad Shah Massoud bersama penulis ditampilkan melalui pengeditan redaksi sebagai bentuk tanda pengagum

Oleh: Moch Idris

Di kota Jambi, saat suasana heningnya dini hari menyelimuti malam Senin yang dingin, saya masih terjaga di depan meja kerja yang berantakan. Di luar sana, masyarakat dan warga sekitar telah terlelap tidur dalam buaian mimpi yang tenang. Hanya suara jangkrik dan sayup klakson kendaraan logistik yang sesekali memecah sunyi.

​Dengan ditemani secangkir kopi hitam yang uapnya masih menari tipis di udara, jemari saya terhenti pada sebuah foto usang di layar gawai. Pria di dalam gambar itu mengenakan topi pakol khas Afghanistan, menatap tajam menembus waktu. Wajahnya adalah perpaduan ganjil antara ketegasan seorang panglima medan perang dan ketenangan seorang sufi.

Ia adalah Ahmad Shah Massoud.

Bagi banyak orang, ia mungkin sekadar tokoh sejarah dari negeri yang jauh di puncak Hindu Kush. Namun bagi saya, pada dini hari yang sunyi ini, setiap guratan di wajahnya menjelma menjadi narasi hidup tentang integritas yang menembus batas geografis dan dekade waktu. Di tengah kesunyian Jambi yang merayap pekat, sosok Massoud seolah hadir, membawa pesan tentang apa artinya berdiri tegak di atas prinsip ketika dunia lebih memilih untuk berlutut.

Ahmad Shah Massoud lahir pada 1953 di Bazarak, jantung Lembah Panjshir. Ia tidak lahir sebagai mesin perang. Ayahnya, seorang perwira polisi yang berpikiran terbuka, memastikan Massoud mendapatkan pendidikan terbaik. Massoud muda adalah seorang kutu buku yang fasih berbahasa Prancis dan terobsesi pada arsitektur serta teknik sipil di Universitas Politeknik Kabul.

Namun, sejarah memiliki rencana lain. Ketika rezim komunis mulai mencengkeram Afghanistan dan Uni Soviet mulai membayangi kedaulatan negaranya, Massoud mengambil keputusan yang akan mengubah peta politik dunia: ia meninggalkan meja kuliah dan memilih naik ke gunung. Ia sadar, pengetahuan tanpa kedaulatan adalah sia-sia. Inilah awal mula ia membentuk kelompok kecil pejuang yang kelak akan mengguncang stabilitas negara super power.

Sebagai jurnalis, saya sering menganalisis bagaimana sebuah kekuatan kecil bisa bertahan melawan raksasa. Massoud adalah jawaban dari teka-teki itu. Secara teknis, ia adalah jenius taktik gerilya yang menyatukan logika teknik sipil dengan insting tempur.

Ia menerapkan konsep “Mobilisasi Total”. Massoud tidak hanya melatih tentara; ia mendidik seluruh warga lembah untuk menjadi mata dan telinga. Setiap batu di Panjshir adalah pos pengamatan. Soviet meluncurkan sembilan ofensif besar-besaran (Operasi Panjshir I-IX). Mereka mengerahkan divisi lapis baja dan supremasi udara, namun Massoud merespons dengan “Taktik Pukul dan Lari” yang mematikan. Ia membiarkan musuh masuk ke koridor lembah yang sempit, memutus jalur suplai mereka di Terowongan Salang, lalu menghujani mereka dengan mortir dari puncak ketinggian yang mustahil dijangkau tank.

Ada sisi unik yang jarang dimiliki panglima perang lain. Di sela-sela desing peluru kaliber .50, Massoud selalu membawa buku kecil di balik rompi amunisinya. Ia adalah pemuja karya-karya Rumi, Hafez, dan Al-Ghazali. Baginya, perang hanyalah alat sementara untuk mencapai perdamaian yang beradab.

Ia memimpin dengan metode diskusi. Di saat panglima lain memerintah dengan tangan besi, Massoud sering mengajak komandan juniornya duduk melingkar, meminum teh, dan berdebat mengenai strategi. Ia mendidik pasukannya untuk menghormati tawanan perang dan warga sipil. “Jika kita berperang dengan cara yang sama kejamnya dengan musuh kita, maka kita tidak punya hak untuk menyebut diri kita pejuang kebebasan,” ujarnya dalam sebuah catatan harian.

Setelah Soviet mundur pada 1989, Afghanistan jatuh ke dalam perang saudara yang memilukan. Di tengah kekacauan ini, muncul kelompok Taliban pada pertengahan 1990-an. Ketika Kabul jatuh pada 1996, banyak pemimpin Mujahidin melarikan diri ke luar negeri dengan harta mereka. Namun, Massoud melakukan hal yang berbeda.

Ia mundur kembali ke Lembah Panjshir, bukan untuk bersembunyi, tapi untuk membangun basis perlawanan terakhir yang ia sebut Aliansi Utara. Di wilayahnya, ia menjamin hak-hak perempuan untuk bersekolah dan bekerja. Ia membangun rumah sakit dan sistem administrasi sipil di tengah kepungan musuh. Ia menjadi satu-satunya penghalang antara Afghanistan dan kegelapan totalitarianisme ekstremis.

April 2001, Massoud melakukan perjalanan diplomatik ke Eropa. Dalam pidatonya yang legendaris di hadapan Parlemen Eropa, ia memberikan peringatan yang sangat presisi kepada dunia: “Jika Anda membiarkan terorisme berkembang di Afghanistan, virus itu akan segera sampai ke kota-kota Anda di Barat.”

Ia berbicara tentang Osama bin Laden dan jaringan Al-Qaeda jauh sebelum nama-nama itu populer di media massa. Ia meminta bantuan diplomatik dan kemanusiaan, bukan sekadar senjata. Namun, dunia internasional saat itu terlalu sibuk dengan urusan domestik mereka masing-masing. Peringatan sang Singa dianggap angin lalu, hingga tragedi besar benar-benar terjadi hanya beberapa bulan kemudian.

Dua hari sebelum serangan 11 September 2001, pada tanggal 9 September, dua orang yang menyamar sebagai wartawan Arab mendapatkan akses untuk mewawancarai Massoud di Khwaja Bahauddin. Sebagai pemimpin yang sangat menghargai peran jurnalis dan keterbukaan informasi, Massoud menerima mereka tanpa rasa curiga yang berlebihan.

Sebuah bom disembunyikan di dalam kamera video yang mereka bawa. Saat wawancara baru saja dimulai, bom tersebut meledak. Massoud gugur. Dunia kehilangan pelindung gerbang terakhir. Sebagai seorang jurnalis, fakta bahwa ia tewas oleh alat yang seharusnya merekam kebenaran adalah sebuah ironi yang sangat menyakitkan. Kematiannya adalah serangan pertama dalam rangkaian peristiwa yang mengubah dunia selamanya.

Jika kita bedah secara mendalam, warisan Massoud bukan hanya tentang kemenangan militer. Ia meninggalkan cetak biru tentang bagaimana sebuah gerakan perlawanan harus dikelola yakni diantaranya:

  • Kedaulatan Informasi: Ia selalu memiliki stasiun radio dan departemen dokumentasi sendiri untuk melawan propaganda lawan.
  • ​Kemandirian Ekonomi: Ia mengelola tambang zamrud di Panjshir untuk membiayai perjuangannya, sehingga ia tidak menjadi budak kepentingan negara donor.
  • ​Moderasi Beragama: Ia membuktikan bahwa iman yang kuat bisa berjalan beriringan dengan pemikiran modern dan inklusivitas.

Kini, kopi di cangkir saya telah mendingin, dan cahaya fajar mulai mengintip dari ufuk timur Jambi di hari Senin pagi ini. Mengapa kisah pria dari pegunungan Afghanistan ini begitu penting bagi kita di sini, di tanah Melayu ini?

​Jawabannya adalah Integritas. Kita hidup di era di mana kepemimpinan seringkali diukur dari pencitraan di media sosial. Massoud mengajarkan bahwa pemimpin sejati adalah ia yang paling terakhir makan di antara pasukannya, dan yang paling pertama berdiri saat musuh datang. Baginya, jabatan adalah beban tanggung jawab, bukan fasilitas kemewahan. Semangat ini seharusnya menjadi cermin bagi setiap pemimpin di daerah, dari tingkat desa hingga provinsi.

Ahmad Shah Massoud mungkin telah tiada secara fisik, namun “raungannya” terhadap ketidakadilan akan selalu bergema. Ia adalah bukti bahwa seorang individu yang memiliki prinsip yang teguh mampu mengubah arah sejarah. Ia gugur sebagai pahlawan nasional, namun warisannya adalah milik dunia.

​Dini hari ini, di Jambi, saya menutup layar gawai saya dengan satu keyakinan: bahwa selama masih ada orang yang mau menulis dan membaca tentang kejujuran dan keberanian, maka cahaya dari Lembah Panjshir tidak akan pernah benar-benar padam. Sang Singa masih mengaum di dalam hati setiap orang yang mencintai kebebasan. ***